nabi tidak ummiy
Pernahkah kita dengar penafsiran kata ”ummiy”? ”Mereka yang mengikuti Rasul Nabi yang Ummiy.” Umumnya itu diterjemahkan ”Ummiy” itu sebagai buta huruf. ”Mereka yang mengikuti Rasul Nabi yang buta huruf”.
Kalau Allah memberikan gelar kepada para Nabi, Allah akan berikan gelar kepada para Nabi itu gelar kehormatan. Kecuali mungkin dalam ”Ummiy” itu. Coba bayangkan kita baca shalawat ”Allahumma shalli ’ala Muhammadin Nabiyyil Ummiyyi. Ya Allah sampaikan shalawat kepada Muhammad Nabi yang buta huruf”.
Saya tidak akan tanya saudara tentang pengetahuan saudara tentang ilmu tafsir. Tetapi tanyalah hati nurani, apakah enak kita menggelari Nabi dengan gelaran buta huruf? Kita mempersoalkan apakah betul Nabi itu buta huruf. Apakah kata ”ummiy” itu artinya hanya buta huruf ataukah ada arti-arti yang lain?
Kalau kita mengatakan bahwa Nabi itu buta huruf, kita akan berhadapan peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal. Atau tidak masuk akal saya, mungkin akal Anda masuk. Misalnya surat atau ayat yang pertama kali turun adalah ”Bacalah. Demi Nama Dia yang Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah demi Tuhanmu Yang Maha Mulia yang mengajarkan dengan pena. Yang Mengajarkan manusia sesuatu yang tidak yang tidak diketahuinya.”
Menurut cerita yang beredar di kalangan Ahlussunnah, ketika turun ayat itu, malaikat Jibril datang membentak Nabi yang ketakutan. ”Bacalah…!” Kemudian Nabi berkata dengan tergagap-gagap, ”Saya tidak bisa baca.” Lalu Nabi dipeluk oleh Malaikat Jibril sampai Nabi hampir kehilangan nafas.
Riwayat ini saya kritik.
Kalau Allah memberikan gelar kepada para Nabi, Allah akan berikan gelar kepada para Nabi itu gelar kehormatan. Kecuali mungkin dalam ”Ummiy” itu. Coba bayangkan kita baca shalawat ”Allahumma shalli ’ala Muhammadin Nabiyyil Ummiyyi. Ya Allah sampaikan shalawat kepada Muhammad Nabi yang buta huruf”.
Saya tidak akan tanya saudara tentang pengetahuan saudara tentang ilmu tafsir. Tetapi tanyalah hati nurani, apakah enak kita menggelari Nabi dengan gelaran buta huruf? Kita mempersoalkan apakah betul Nabi itu buta huruf. Apakah kata ”ummiy” itu artinya hanya buta huruf ataukah ada arti-arti yang lain?
Kalau kita mengatakan bahwa Nabi itu buta huruf, kita akan berhadapan peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal. Atau tidak masuk akal saya, mungkin akal Anda masuk. Misalnya surat atau ayat yang pertama kali turun adalah ”Bacalah. Demi Nama Dia yang Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah demi Tuhanmu Yang Maha Mulia yang mengajarkan dengan pena. Yang Mengajarkan manusia sesuatu yang tidak yang tidak diketahuinya.”
Menurut cerita yang beredar di kalangan Ahlussunnah, ketika turun ayat itu, malaikat Jibril datang membentak Nabi yang ketakutan. ”Bacalah…!” Kemudian Nabi berkata dengan tergagap-gagap, ”Saya tidak bisa baca.” Lalu Nabi dipeluk oleh Malaikat Jibril sampai Nabi hampir kehilangan nafas.
Riwayat ini saya kritik.
Kasihan Nabi itu, sudah jelas Nabi itu tidak bisa baca dipaksa oleh Malaikat Jibril. Dipaksanya malah memakai tekanan sampai dipeluk. Padahal Allah sudah menetapkan, ”Allah tidak akan membebani orang melebihi dari kemampuannya.” Itu Allah menyuruh malaikat Jibril untuk memaksa Rasulullah membaca padahal beliau tidak mampu membaca.
Nanti Rasulullah itu akan diperintahkan oleh Tuhan, ”Engkau ini hanya pemberi ingat saja, tidak boleh memaksa.” Tetapi contoh pertama wahyu itu, Nabi yang tidak bisa baca dipaksa untuk membaca, dengan kekerasan lagi. Dan itu membebani Nabi diluar kemampuannya. Kita bisa katakan di sini bahwa itu tidak benar-benar terjadi. Itu hanya dibuat oleh orang-orang yang ingin mendiskreditkan kehormatan Rasulullah Saw.
Dalam riwayat yang lain, Nabi itu menerima wahyu dengan perasaan gembira, lega, dadanya terbuka lebar, tidak sumpek. Karena itu sudah hukum Tuhan, ”Kalau Allah menghendaki memberi petunjuk, Allah akan melegakan dadanya.” Setelah menerima wahyu, Allah berfirman, ”Bukankah telah Kami legakan dadamu dan aku lepaskan beban yang menghimpit punggungmu.”
Jadi Nabi menerima wahyu itu lega. Jangankan menerima wahyu yang itu adalah petunjuk yang tinggi tingkatnya. Kalau kita mendapat petunjuk yang ringan-ringan saja, hati kita itu lega rasanya. Sampai dalam taraf ilmiah itu ada yang disebut ”Ureka”. Jadi dulu ada seorang raja bikin mahkota dari emas, tetapi raja itu khawatir emasnya dicampur. Dia ingin emasnya itu murni. Tetapi gak tau bagaimana mengecek emas itu murni atau tidak. Disuruhlah seorang ilmuwan di jaman itu, Archimides namanya, untuk menguji dan Archimides gak tau gimana menguji emas itu asli atau tidak. Sambil berbaring-baring di kamar mandinya dia tiba-tiba menemukan pemecahannya. Itu yang lalu menghasilkan hukum berat jenis. Akhirnya dia menemukan jawabannya, dan lega betul sampai dia berteriak dan berlari-lari telanjang bulat, ”Ureka…Akhirnya aku temukan…!”
Jadi orang mendapat petunjuk hatinya tuh lega. Dan wahyu adalah tingkat yang paling tinggi, eh ternyata Nabi itu sumpek (apa maksud ni? Sapa tahu bagitau aku) sampai katanya Nabi berlari-lari ketakutan. Menurut riwayat sampai-sampai Nabi berkata, ”Saya tidak tau apakah saya ini gila atau kemasukan setan.”
Bayangkan Nabi yang mendapat wahyu sampai begitu. Itu menurut saya riwayat itu memang menjatuhkan kehormatan Nabi.
Dan sekarang kita bicarakan mengenai ”Ummiy” kebutahurufan Nabi. Kalau Nabi itu memang buta huruf, paling tidak, Nabilah yang pertama kali melanggar ajaran Allah SWT. Surat yang pertama menyuruh Nabi baca. Menurut orang-orang yang berpendapat bahwa Nabi itu buta huruf, menafsirkan maksud ”bacalah” dalam ayat tersebut adalah membaca alam semesta bukan membaca buku, memahami alam semesta, membaca alam semesta itu sebagai teks. Memang sih kelihatannya ilmiah, tetapi itu tidak nyambung dengan ayat Al-Qur’an tersebut karena ujungnya ”Bacalah dengan Nama Tuhanmu Yang Maha Mulia yang mengajar dengan pena.” Kalau membaca konteksnya dengan pena itu artinya membaca buku, membaca teks, membaca huruf.
Kalau Nabi buta huruf maka perintah membaca itu menjadi perintah yang dipaksakan kepada Nabi. Nabi disuruh membaca padahal ia tidak bisa membaca.
Di antara surat-surat yang pertama turun adalah, ”Nun, demi pena dan apa yang mereka tuliskan dengan penanya.”
Dalam Al-Qur’an ada banyak perintah menulis. Diantaranya adalah ayat yang terpanjang di dalam Al-Qur’an iaitu ayat tentang utang piutang dalam surat al-Baqarah. Tuhan sampai menurunkan ayat terpanjang untuk mengatur utang piutang. Dalam ayat itu dikatakan bahwa hendaknya seseorang itu menuliskan utang piutang itu. Jadi wajib kalau utang piutang itu dituliskan. Kalau Nabi itu buta huruf, maka Nabilah yang pertama kali melanggarnya. Padahal kata Aisyah, ”Akhlak Nabi itu Akhlak Al-Qur’an.”
Nabi juga menganjurkan orang-orang untuk belajar tulis dan baca. Sampai beliau bersabda, ”Diantara kewajiban orang tua terhadap anaknya ialah mengajarkan menulis, berenang, memanah.”Apakah mungkin Rasulullah memerintahkan sesuatu yang tidak ia praktekkan.
Lalu kalau begitu, apa itu arti dari Ummiy kalau bukan buta huruf? Bukankah dikatakan juga Nabi akan dibangkitkan ditengah-tengah masyarakat yang buta huruf? (Adakah semua orang ketika itu buta huruf).

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home